October 31st, 2007

ketika putaran waktu mampat di benakmu,

di mana matahari bersemayam?

gondomanan, 31 oct 2007, 02.45

Narcissus

August 5th, 2007

Adalah Narcissus putera dewa sungai
Cephissus dan dewi air Liriope yang
sangat tampan wajahnya.

Banyak perempuan yang jatuh cinta
padanya namun tak ada satupun yang bisa
menarik perhatiannya.

Seorang dewi bernama Echo (Gema)
benar-benar kasmaran sehingga ia
bersusah payah mengejar Narcisuss hingga
ke tebing-tebing, jurang dan gunung.
Tapi tetap saja Narcisuss tidak bergeming.

Dengan hati yang remuk redam dewi Echo
perlahan menghilang hingga yang
terdengar hanya pantulan suaranya yang
penuh duka.

Suatu ketika Narcisuss sedang
berjalan-jalan menyusuri sebuah sungai
yang sembilan kali mengalir mengelilingi
alam arwah, Styx. Ia membungkuk untuk
meminum sedikit airnya.

Betapa terkejutnya ketika ia melihat
bayangan wajahnya di sungai. Ternyata,
betapa sangat tampannya ia.

Begitu dahsyatnya kekaguman pada
wajahnya sendiri yang tercermin di
permukaan air jernih itu bahkan kemudian
ia merasa jatuh cinta dan tak sanggup
meninggalkan bayangannya.

Ketika ia mencoba mengulurkan tangannya
untuk menggapai wajah dalam air dan
bermaksud menciumnya, Narcisuss
tergelincir, tenggelam dan kemudian
meninggal.

Para dewa menemukan jasadnya dan
mengubahnya menjadi bunga yang disebut
sebagai bunga narcisuss/narsis.

Bunga narsis adalah sejenis bunga
berumbi, termasuk dalam golongan bakung
- dafodil ( Amaryllidaceae). Biasanya
berwarna putih, kuning bahkan ada juga
yang berwarna merah.

Orang-orang yang senang difoto, dilukis,
yang senang memfoto dirinya sendiri,
yang bangga dan mengagumi foto-foto
dirinya sendiri sering disebut dalam
pergaulan sebagai orang yang narsis.

Jika gejala terarahnya nafsu akibat
mengagumi, mencintai diri sendiri secara
berlebihan dan mengganggu kepribadian,
ahli jiwa menyebutnya sebagai narcissme,
mengacu pada kisah mitologi Yunani
tersebut diatas…..

(posting ini dicopy dari Bulletin Board Indra)

about participatory achievement

July 12th, 2007

i got a small discussion this late afternoon pertaining to what so-called participatory achievement is.

a lot of people recently turn their head and start focusing more to any issue with the adjective ‘participatory’ coming along.

would be very nice actually, if any program implemented all over this country will use what they call  as participatory approach, which more or less means that an approach during the whole process of implementation which enable the respective community to get involved and really perform their own planning,implementation and also evaluation. at the end, it’s expected that people then can mobilize their own resources, capacity,communal ‘power’ and their social capital, to really create policies applicable for their own benefit. from, by, and for the community. that’s the way it says.

nevertheless, what my colleague in banda aceh shared today in his email is quite interesting. many organizations which give donation and run their projects in aceh is under the title ‘participatory everything programs’ . no need to mention one by one. too many actually. my colleague himself is also starting a program which also with ‘participatory’ adjective in it.but then the problem he is facing is that those people from the targeted community keeps demanding some ’salary’(though it’s under the name of ‘transport, per diem, allowance or whatever) which is paid on daily-base, for their involvement in t/for their community. from his email, he indicates his hopelessness to manage this ‘artificial salary’ issue. he says how can he keeps going on his ideal idea to have such a participatory approach, while all those organizations keep paying that kind of stuff. he is getting on some kind of conclusion (I am not sure if it’s a really final conclusion) that in Aceh that kind of approach, can be said, is impossible to work out.no one really can move on with their participatory program without keeping a large bunch of USD or CHF in their pocket, and ready to distribute them to the community, really by disbursing them to the people.and without this ‘precious’ pocket, it would be better to step back and pack all your stuff, bring your luggage and leave out of the community area.

is the community really losing their internal cohesion, burnt out into the never-ending-money-labyrinth?

another friend in banda aceh gave me a story in several day ago. delightfully and very optimistically he told me that he started to manage a new cooperative for some acehnese friends who had lost their jobs in banda aceh. he said that it did take some time, but not really such a long time which made him really exhausted. and he is trying to keep developing this small economic movement. I still remember when at the very beginning he conveyed his idea, some people really laughed at him, and said it was a stupid idea to be carried out, in aceh especially. even I, to be honest, at that time also doubted that his idea really can be put into reality. but then, now it’s really there. those people have their cooperative, and they start their bussiness with their small capital.

‘the matter is on how you approach them’ my friend explained.’you need to be part of the community, and really feel how far they suffer from all their dificulties and enjoy their life, then you really can feel why they behave such ways’ he added.

well, maybe that’s true. how we really approach the people in the community. nothing can be instantly happened in any participatory activities. everything is about a smooth process of approaching, getting to know people around us, learning, listening by heart, cooperating, respecting human being in the way human being should be treated, sharing ideas, waving one idea with another, adjusting ourselves into the way community live, negotiating and following every detail point of the movement.patient is one of the keywords.

and in aceh, that’s really a special case. those people got continuos disasters including their in-years conflict and the huge horrible tsunami-earthquake. socially they have been weaken down and washed-up by the conflict, and physically the tsunami just like really accomplishing all the tasks to make the community totally collapsed. honestly, ‘personally, i really can’t imagine how they can live in such a conflict more than 30 years. even the president only have 5 year opportunity to really make a development in this very large country, even sumtimes less, for if within his/her first 3 year governing period he/she doesn’t really make any improvement/development, some political parties may start some criticism on his/her performance.and aceh, which is only a small drop of water compared to the whole country-ocean, has to undergo a 30-year process on the other way around continuosly.

and about being part of the community, how many facilitator can really want to ‘invest’ their time and life for that? I do not say there is none, but is it that many ? I really hope it is.anyone who comes from outside of the community, can they really be  humble enough to put aside his/her individual privilege a little bit, to really spend their time, concerns, attention dominantly for learning about the cultural side of the community? and really being part of the community?

maybe, that money labyrinth is there and very much influential. but, there is also some optimism, that the willingness to really develop the internal cohesion is still there. it’s just being hibernated, in a sleeping mode, since a utterly time-consuming conflict keeps torturing it and forcing it to be silent, or maybe dying.but not really dead.

i’m sure. it’s there.need to be waken up.

gondomanan, a bit late stay in the office, 12 july 07

sedikit dari FKY

July 5th, 2007

mungkin belum lengkap sebagai penghuni yogya (meski baru seumur jagung) tanpa sedikit ngintip-ngintip kegiatan di FKY.dari sedikit event yang saya sambangi, ada beberapa catatan kecil:

- saya umumkan dan himbau dengan sangat, mungkin sebaiknya panitia tidak memasang spanduk, papan pengumuman, atau apa saja dengan memakunya di tembok, apalagi di dinding benteng vredeburg. bukan karena itu peninggalannya kumpeni, tapi memang sebagai penyuka gedung cantik, rasanya ngga rela kalo mereka dibuat terluka. . . menyakitkan tentunya.. hiks..

- ingin band baru unuk didengerin musiknya. saya perkenalkan Gendhing. saya sempat nonton manggungnya Gendhing. musiknya inovatif dan keren.ada techno dikitdikit, nadanada musik padang pasir(kayak badai pasir gitu kali hehehe..),rap,dan kental dengan pengaruh musik etnis timur tengah,qasidah.. :) mungkin enak buat nari perut ;P. enak didengerin pas lagi kerja atau lagi sepisepi gitu. paling tidak, komposisi musiknya menarik banget, meski, buat saya komposisi liriknya tidak sekeren komposisi musiknya. seperti mereka akui di konser mereka, Andre Manika, yang malam itu juga hadir, adalah salah satu guru bermusik mereka. Andi (yang bergelar Pangeran Jaya Gendhing itu) mengemukakan kalo musik itu bisa dibilang bahasa perasaan dia.. ciyeeh.. dan alat musik hanya sekedar alat untuk menyuarakan bahasa mereka.mungkin gitu kali yah. Dibantu oleh beberapa pemain musik tambahan, yang ternyata masih bersaudara dengan Gendhing, malam itu mereka tampil dengan tata panggung yang sederhana. Meski demikian, mereka tidak kehilangan perhatian penonton. panggung yang tidak terlalu tinggi, dan bisa dibilang sangat dekat dengan penonton, justru membangun suasana akrab dalam konser mereka. komentar-komentar penonton bisa dengan spontan disampaikan. pohon beringin besar yang kadang bagi beberapa orang menimbulkan nuansa ‘wingit’, malam itu sang pohon justru bikin lagu-lagu gendhing lumayan eksotis, natural dan adem :) sayangnya, saya ngga mengikuti konser ini dari awal, karena konsernya berbarengan dengan farewell party-nya boss besar di kantor. jadi terpaksa haru memaruh malam buat kedua event penting tersebut.

Gendhing_1                                                

- pertunjukan lain adalah pertunjukan band yang disponsori oleh sebuah universitas islam di YK, perusahaan minyak nasional, dan beberapa radio, serta company yang agak saya lupa namanya. band-band indie YK memperoleh kesempatan buat unjuk kebolehan pada event yang diadakan di depan monumen SU 1 Maret dan masih dalam rangkaian kegiatan untuk FKY. Kali itu ada Killing Your Mom, Taman Bunga, Squadron, The Pilots, para pelaku seni dari asrama-asrama daerah(Kalimantan Barat, Jawa Barat, Aceh), dan juga marching band dari universitas sponsor.ada beberapa band lain yang saya lupa namanya. dan di antara performance yang ditampilkan sore hingga malam itu, terus terang hanya beberapa yang menarik. band yang tampil kebanyakan beraliran musik keras. malah dua band seperti berlomba buat jadi ‘muse’-nya jogja.. he he .. ada satu band yang memainkan musik yang mengadopsi musik-musik daerah. dan salah satu dari personilnya memainkan jimbe dengan lincah dan cantik. asyik banget.dan aransemen yang mereka buat yang kental dengan nuansa etnis indonesia, sangat menyentuh buat saya. ketika mereka menyanyikan lagu daerah makassar dan lagu gayo, tampak banyak penonton sangat menikmati musik yang mereka sajikan.  rasanya pengen ikut lonjak lonjak di panggung bareng temen-temen gayo itu. keren.

dari jajaran para pemain dari asrama daerah, tampak tim dari kalimantan barat paling top deh. blocking panggungnya bagus. jadi untuk pementasan, blocking ini sangat berpengaruh ternyata. baju yang kuning menyala juga pilihan yang cukup bagus untuk menyiasati pencahayaan yang tidak terlampau terang.

penampilan dari asrama Aceh, yang menampilakan tarian adat suku Gayo, tampak biasa saja, mungkin karena saya pernah menyaksikan beberapa penampilan yang lebih menghibur di negerinya sana. hehe. gak adil mungkin,ya.

setelah pertunjukan dari asrama-asrama daerah, menyusul adalah DRag queen show. si ‘mbak’  dalam show ini pernah saya lihat manggung di Kinoki dalam rangka memperingati hari transeksual sedunia. Tapi waktu itu namanya Shanti. dan di malam pertunjukan di FKY ini dia bernama Tata Yong.dan seperti biasanya, performance-nya …wow!! hebuuuooohh… dan ditambah lagi dengan rekannya yang bernama Mulan Kwo itu. Mulan berlenggak lenggok sampai ke tengah penonton, naik ke atas kotak loudspeaker, dan menari layaknya ‘mencumbui’ tiang panggung.. wedew!! sayang, tukang potonya dah buanyak banget, jadi saya males berebutan buat motret hehehe..

usai drag queen show, band-band yang menggaungkan musik berirama keras kembali menguasai panggung. penampil pertama agak mengecewakan sebenernya. lagu ‘hysteria’- nya Muse yang sangat saya gemari itu jadi terasa gatal di telinga saya.:( mungkin saya kurang cocok dengan pilihan untuk menurunkan tone lagu itu dan improvisasi vokalis untuk menyiasati oktaf suaranya yang kurang tinggi.ini terasa kurang pas buat telinga saya. di lagu terakhirnya si vokalis menyanyi dengan bergaya armand maulana. dan sebenernya suaranya lebih pas kalo dia bergaya armand maulana saja ketimbang matthew bellamy. kenapa dia ngga pake gaya dia sendiri aja, ya…tentunya bakalan lebih oyisinyil gituh. nyanyi hysteria sambil bergaya nari jathilan gitu kali ya hehehe.tapi kalo boleh saya minta, ubah pilihan lagu hysteria itu dari list mereka. hiks.. ;( (jahat,ya.. :D)

karena kurang puas dengan penampilan band pengawal sesi malam ini, saya dan teman saya sempat bikin ‘judi’.. hehe..”kalo sampe band kedua ini masih dengan kualitas yang sama, kita cabut aja’ demikian kawan saya bilang.

kemudian muncul band selanjutnya, The Pilots. dan, ternyata keren bangeet. :) suara musik yang keras yang pada penampilan2 sebelumnya kurang bisa dinikmanti (sebenernya juga karena sound system yang kurang bagus), oleh band ini jadi tetap sangat enjoyable.permainan musiknya terdengar ‘rapi’. mungkin lain kali, kalau ada konser-konser yang menampilkan the pilots, dan gratis,  saya akan menontonnya, deh.dan di antara lagu-lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu karya mereka sendiri.

The_pilot_2 

The_pilot2

setelah the pilots, dua band yang tersisa tidak begitu enak dinikmati sebenarnya. tapi akhirnya saya putuskan untuk tetap tinggal sampe penutupan.

:) demikian sekelumit  cerita dari ajang FKY yang digelar dua bulan terakhir ini. hehe

bulu mata

June 18th, 2007

pernahkah cerita itu

sampai pada langitlangit kamarmu,

seraya menerbangkan

guguran bulu mataku

di hamparan telapak tanganmu?

semoga mereka cukup setia

untuk berkisah tentang sekerat kerinduan.

- kanthi rasa kapang kang nabet ati

i love this song much

June 18th, 2007

Old days, don’t come to find me
The sun is just about to climb up over there
While my heart is sinking I do not want my voice
To go out into the air

Did you leave the darkness without me?
You’re always miles ahead
And you’re standing in tomorrow on the runway

Oh, be the music in my head
The air around my bed
Oh, be my rest
Replace the small disgraces of the times and places
That I never really left

Did you leave the darkness without me?
You’re always miles ahead
And you’re standing in tomorrow on the runway

Oh, I want to fly, fly forward into the light
Be alive, to come alive
On the leaf-bright Friday drive
Sudden horses at the red light
Turn around, see clearer ways to go now

pada suatu malam –(untuk para sobat yang tercekat kesumat)

June 17th, 2007

kekasihku,

lidahmu yang memercik bara

telah menghunus sebilah malam

dengan ujung dingin yang kian membekukan

hingga takmampu lagi kita berkilah

dari gigil yang menerobos belulang.

.

.

mengapa tak lagi kita ingat

di mana kehangatan pernah disematkan?

.
.

(sungguh pantaskah kemarahan menebas persahabatan?)

kebetulan

June 13th, 2007

13 june 2007

seperti apakah sebuah kebetulan dimaknai? yang jelas, kebetulan itu pada gilirannya adalah satu bentuk kejutan. dan keajegan rutinitas keseharian tentunya memastikan bahwa kejutan adalah hal yang (bisa dibilang) indah. meski sekecil apapun itu.

malam kemarin, seusai meladeni Bjork menyeloteh nakal, lagu bermusik minimalis itu merayap pelan-pelan, mengiringi sebuah suara serak perempuan. petikan gitar itu terasa menyentuh.

lagu itu merayuku sebelum akhirnya kumatiin komputer, dan menyusul IN lelap di kamarnya. Pagi-pagi sekali, laun kutangkap lagi lagu itu. berulangulang. tapi telingaku tenang tak kenal bosan. IN tengah mengetik di komputernya. sementara mataku masih enggan meninggalkan pejam.

aku sempat ke luar kamar, memandikan diri, membasuh rambut dan mencucinya. setengah jam kirakira. kembali ke kamar, lagu itu masih mengalun.

kemudian IN bertukar kegiatan. dia ke luar, mandi.lagu itu masih saja melantun berulang tak juga sudah. dan pendengaranku mulai berkawan padanya.

lagu ini telah mampu merayuku. mencanduiku. semalam IN juga memberikan pengakuan. tengah terpikat pada lagu ini. seperti halnya aku. ’sepagi, sesiang, tigaperempat malam telah dirayahnya’ ungkap IN.

segera sebelum beranjak pergi,kusalin lagu itu ke flash-disk. ah, dan nantinya dia akan menerobos di waktuwaktu kerjaku. tentunya menghibur.

                                                   ***

memaklumkan sebuah symposium. dua hari di ibukota.aku menemukannya di antara peserta.satu sosok menarik.(masih enggan kujelaskan bagaimana dia menarik). semenjak hari sebelumnya, kubilang pada IN, sosok ini menarik. IN menyodorkan kerlingan.

ini hari terakhir symposium.pada satu agenda,peserta harus keluar ruangan, berkelompok dan berrapat. di sebuah kesempatan kecil, kusampaikan pada IN, "sosok itu lebih memilih di baris belakang.mungkin menyenangkan bila kulewatkan sesi akhir ini bersamanya’ dan lagilagi IN mengerling. ‘ah, mungkin tidak juga. lebih baik tetap bersamamu, IN, di kursi depan.lebih jelas mendengar diskusi yang berlangsung’ IN tertawa mendengarku kebingungan.depan atau belakang?

waktu diskusi kita lewati. waktunya kembali ke ruang plenary.yah,akhirnya kurencana mengambil jajaran depan. tapi lihatlah, barisan depan telah dijajah orangorang. yang terlewatkan hanya baris tiga.. oh tidak.. ke empat.. dan itu adalah baris belakang. terpaksa kuambil baris paling belakang dan memindahkan bawaanku.tibatiba aku dengar suara itu memanggil. sosok itu dengan sepuhan senyum, yang sebenarnya,tanpa sadar,kurekam erat.dia tawarkan kursi di sebelahnya.Dan jawabanku? sejelas 1+1 = 2!! dan seperti kutukan, sangat kebetulan, bahwa akhirnya kuhabiskan sesiku berbincang dengan si sosok incaranku. sebuah kebetulan.dan mengejutkan.

                                                 ***

usai symposium, pesawat itu telah menungguku. harus tak lebih dari 3 jam aku menghampirinya. demikian tiketku mengingatkanku.

sejam, pesawat ini membawaku terbang.

saat mendarat, kuputuskan untuk tak langsung pulang. kostan adalah tujuan kedua. kantorlah pemenangnya. persiapan untuk sebuah workshop mengerucutkan tujuan perjalananku malam ini.

malamku berlalu di kantor.bossku tengah kisruh di hadapanku. menyiapkan paparannya untuk workshop esok.tanpa musik.terlampau sepi. hanya keluhan itu berserakan dari mulutnya. ya, keluhan. wajahnya mengungkapkannya. meski bahasa dari mulutnya tak kupahami.

berjamjam tanpa musik.

aku rindu lagu itu. yang jadi candu baru buatku,di kamar IN. tentu sangat membantu untuk sedikitnya mengurangi gigil ruangan ber-AC.

masih hendak kuambil flash diskku,di mana salinan lagu itu kuselipkan, ketika bossku berujar ‘do you mind if I play some music?’ aku hanya menjawab ‘nope’.

dan aku berteriak kecil tanpa sadar. lagu itu!! sungguh kebetulan. dan benar sebuah kejutan.

..tommorow is runway..

June 12th, 2007

Seringkali aku berkata,

ketika orang memuji milikku bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipanNya,

bahwa rumahku hanyalah titipanNya,

bahwa hartaku hanyalah titipanNya,

bahwa putraku hanyalah titipanNya,

Tetapi, Mengapa aku tak pernah bertanya,

Mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat,

Ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,

Kusebut itu sebagai musibah Kusebut itu sebagai ujian,

Kusebut itu sebagai petaka,

Kusebut itu dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah sebuah derita.

Ketika aku berdo’a,

Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

Aku ingin lebih banyak harta,

Ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak popularitas,

Dan kutolak sakit,

Kutolak kemiskinan,

seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku,

Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:

Aku rajin beribadah, maka selayaknya darita menjauh dariku,

Dan nikmat darita kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,Dan bukanlah kekasih.

Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", Dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti, Padahal tiap hari kuucapkan, Hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…..

"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja" Adalah anugrah"

WS Rendra

thanks Intan, buat renungannya :)